Financial 3347278218_b83fb64c13

Published on September 10th, 2013 | by duniatraining

0

Harga Kedelai Terus Melambung di Berbagai Daerah.

Aksi Mogok, Pedagang Tempe Pasar Di-sweeping.

Pedagang tahu dan tempe di Pasar Beringharjo Yogyakarta berhenti berjualan sebagai solidaritas pemogokan perajin tahu-tempe se-Indonesia. Pedagang yang nekat jualan di-sweeping dan diusir keluar dari pasar. Supriyatno, 29 tahun, pedagang tempe di Beringharjo, mengatakan sweeping berlangsung pada dini hari pukul 03.00-04.00 WIB Senin 9 September 2013.

Bersama sejumlah pedagang lain, dia mendatangi lantai 1 dan 2 pasar, tempat pedagang tahu-tempe biasa berjualan.

“Ada yang jualan kami suruh keluar pasar,”

kata Supriyanto yang juga perajin tempe, Senin 9 September 2013.

Menurut dia, pedagang sepakat berhenti sementara jualan setelah terbit surat edaran Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia agar tak berproduksi dan berjualan selama tiga hari, 9-11 September.

“Kami mulai jualan lagi Kamis nanti,” kata dia.

Supriyatno kembali ke pasar pada siang hari untuk mengecek kemungkingan ada pedagang yang nekat kembali ke pasar. Dia sadar, mogok produksi dan jualan membuatnya rugi. Tapi dia tak dapat menutupi rasa geram karena harga kedelai terus melambung.

“Mereka butuh makan, kami pun juga,” katanya.

Akibat pedagang tahu-tempe mogok berjualan, pembeli kecele.

“Tadi banyak yang nanya, kok tidak ada jualan,”

kata Ismuryani, pedagang jagung di Beringharjo. Pedagang tahu-tempe di Pasar Kranggan juga mogok jualan.

Mogok produksi tempe berlangsung di Sleman, Yogyakarta. Paryono, perajin di Jalan Magelang mengatakan sejak kemarin berhenti produksi sementara. Tapi Paryono, 31 tahun, minta dispensasi agar mogok berlangsung dua hari saja.

“Kelamaan mogoknya, pengeluaran jalan terus tapi pemasukan tidak ada,”

katanya.

Di Kartasura, Jawa Tengah, ratusan perajin tahu-tempe menggelar protes di Pertigaan Kartasura, kemarin. Mereka juga mogok produksi. Massa menduduki pertigaan besar yang menjadi jalur utama penghubung Kota Solo, Yogyakarta dan Semarang. Pemrotes berorasi di atas mobil bak terbuka yang diparkir di pertigaan.

“Perajin bisa gulung tikar jika harga kedelai tidak segera turun,”

kata koordinator aksi Suradi. Sebagian membawa alat produksi berupa ember, drum plastik maupun logam. Perkakas itu dipakai untuk alat tabuh hingga suasana makin riuh. Mereka berjoget di tengah jalan dengan iringan rekaman musik dangdut.

Produsen Tahu Tempe Sweeping ke Pasar Tradisional.

Aksi mogok produksi yang diserukan Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), diikuti produsen tahu tempe di berbagai daerah.
Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, produsen dan pedagang tahu tempe bahkan melakukan sweeping ke pasar tradisional untuk memastikan aksi mogok tersebut. Aksi sweeping di antaranya dilakukan produsen dan pedagang tahu tempe di Pasar Celancang, Kabupaten Cirebon. Mereka berkumpul di pintu masuk pasar untuk menghadang kemungkinan adanya pedagang yang akan berjualan tahu maupun tempe.

Namun, mereka ternyata tidak menemukan satu pun pedagang yang membawa tahu dan tempe untuk dijual di pasar.

”Itu berarti para produsen dan pedagang tahu tempe kompak melakukan aksi mogok produksi,”

tegas salah seorang produsen yang juga pedagang tempe, Jack Tarno Slamet.

Jack mengungkapkan, harga kedelai saat ini sangat memberatkan para produsen dan pedagang tahu tempe. Apalagi, produsen dan pedagang tahu tempe tidak bisa menaikkan harga jual kepada konsumen.

Sekarang harga kedelai mencapai sekitar Rp 10 ribu per kg. Padahal, sebelumnya harga kedelai hanya Rp 7.400 per kg. Selain di Pasar Celancang, aksi serupa juga dilakukan produsen dan pedagang tahu tempe di Pasar Perumnas Kota Cirebon. Mereka pun berkeliling di dalam pasar untuk mencari kemungkinan adanya pedagang yang berjualan tahu tempe.

”Tapi tidak ada satupun pedagang yang berjualan tahu dan tempe,”

tutur seorang pedagang tempe yang ikut sweeping, Sarmai.

Sarmai pun mendesak pemerintah untuk segera menurunkan harga kedelai. Pasalnya, hal tersebut menyangkut nasib para pedagang tahu tempe berskala kecil.

Nekat Berjualan, Pedagang Tahu Tempe di Surabaya Di-sweeping.

Pengrajin dan pedagang tahu tempe sepakat melakukan aksi mogok selama 3 hari. Namun, bagi yang tetap nekat berjualan akan disweeping, dan dagangannya akan dihancurkan.

Aksi sweeping terhadap pedagang tempe dan tahu ini terjadi di pasar tradisional Pakis Surabaya. Puluhan orang yang melakukan sweeping langsung menghancurkan tahu dan tempe yang dijual pedagang.

Menurut saksi mata, Maksum yang berdagang ayam potong, aksi sweeping dilakukan puluhan pemuda terjadi sekitar pukul 05.00 Wib, Senin (9/9/2013).

“Saat itu sedang ramainya pasar. Biasanya banyak yang jual tahu dan tempe, tadi cuma dua orang yang jual tempe dan ketahuan langsung dagangan tempenya dibuang di jalan dan di injak-injak,”

jelasnya.

Bahkan, kata Maksum, kejadian serupa hampir terjadi di seluruh pasar. Menurutnya, ia juga diberitahu saudaranya yang berjualan di Pasar Simo dan terjadi aksi sweeping terhadap pedagang tahu dan tempe disana.

“Hampir menyeluruh mas, di Simo kata adik sepupu saya juga ada sweeping dan sama seperti disini, begitu kedapatan ada yang tetap jugal tempe langsung dibuang dijalan dan di injak-injak,”

imbuh pria 59 tahun ini.

Haryati, pedagang warung makanan mengungkapkan hal yang sama. Bahkan dirinya mengaku ketakutan dengan aksi sweeping pedagang tahu dan tempe tersebut.

“Tadi seperti orang tawuran. Saya takut sampai masakan tempe untuk menu lauk di warung, saya sembunyikan,”

ujarnya.

Ibu 3 anak asal Mojokerto ini mengaku mendapatkan tempe dan dibeli dua hari lalu.

“Saya kan sudah langganan, dan kemarin saya disuruh beli dobel karena diberitahu kalau besok (hari ini,red) tidak ada penjual tempe,” ujarnya.

Tempe Mahal, Warga Pacitan Beralih ke `Benguk`

Warga Pacitan punya kiat tersendiri menghadapi harga tempe kedelai yang kian mahal. Sebagian di antara mereka beralih mengonsumsi tempe berbahan baku biji kara atau benguk. Tidak itu saja, tempe berbahan lamtoro atau biasa disebut mlanding juga menjadi alternatifnya.

“Sudah beberapa hari ini saya menghidangkan tempe benguk untuk lauk dan camilan di rumah,”

kata Siti Azizah, warga Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, saat dihubungi, Senin 9 September 2013.

Menurutnya, saat dimakan tempe benguk harus digigit lebih keras dibandingkan makanan serupa yang berbahan kedelai. Meski begitu, cita rasa dan kandungan gizinya dinilai tidak kalah. Karena itu, di saat harga tempe kedelai mahal, Siti sengaja mengalihkan lauk kesukaan keluarganya ke tempe benguk. Harganya murah meriah, per bungkus cuma Rp 500 sementara per kotak tempe kedelai Rp 2.500.

“Di pasar tempe kedelai juga semakin sulit dicari,” ujar Siti yang biasa berbelanja di Pasar Minulyo, Kelurahan Baleharjo, Pacitan.

Sebulan yang lalu harga tempe dengan ukuran sama di pasaran masih berkisar antara Rp 1.000-2.000. Lonjakan nilai jual komoditas lauk tersebut merupakan imbas kenaikan harga kedelai impor. Jika sebelumnya hanya Rp 7.200 terus naik dan saat ini berkisar antara Rp 9.500-Rp 10.000 per kilogram.

Paini, warga Desa, Kecamatan Pringkuku Pacitan juga beralih ke tempe mlanding sebagai alternatif lauk keluarganya. Alasannya, kata dia, harganya hanya Rp 1.000 per kotak dengan ukuran sekitar 15 sentimeter, lebar delapan sentimeter, dan tebal Rp 2.500.

“Kalau rasanya lebih enak tempe kedelai, tapi karena mahal saya lebih sering memasak tempe mlanding,” kata dia.

Tempe mlanding biasa dibeli di pasar yang masuk wilayah Desa Ngadirejen, Kecamatan Pringkuku. Di tempat itu tempe kedelai mulai jarang ditemukan. Paini menngaku mendapat cerita bahwa kenaikan harga kedelai impor membuat perajin tempe mengurangi produksi.

Produsen Tahu di NTT Tolak Mogok.

Pembuat tahu dan tempe di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak ikut-ikutan mogok sebagai bentuk protes mahalnya harga kedelai yang dijadikan sebagai bahan baku.

“Kami tidak mau ikut-ikutan dengan aksi mogok para pengrajin tahu dan tempe, seperti di Pulau Jawa,”

kata pemilik pabrik tahu dan tempe Ping Jaya, Sularno, Selasa, 10 September 2013.

Aksi mogok, menurut dia, akan merugikan karyawannya, karena tidak punya pendapatan. Karena itu, dia tetap memproduksi tahu dan tempe seperti biasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen, walaupun diakuinya harga kedelai cukup mahal.

“Mau bagaimana lagi pak, walau mahal, kami tetap beli agar bisa produksi tahu dan tempe,”

katanya.

Namun, dia memita kepada pemerintah untuk membantu para pengusaha tahu dan tempe untuk menekan harga kedelai di pasaran yang telah mencapai Rp 490 ribu per 50 kilogram (kg), atau naik dari sebelumnya hanya Rp 420 ribu per kg-nya.

“Kenaikan harga kedelai tahun ini cukup drastis, sehingga membuat kami cukup kewalahan,” katanya.

Dengan kenaikan ini, maka pihaknya juga menaikan harga tahu di pasaran dari sebelumnya Rp 68 ribu per papan, menjadi Rp 72 ribu per papan. Sedangkan ukuran besar dijual Rp 4 ribu per empat potong, dan ukuran kecil dijual Rp 2 ribu per empat potong.

“Kami terpaksa menaikan harga tahu, dampak dari kenaikan harga kedelai,”

katanya.

Pasokan Tempe ke Pasar Terhenti.

Meski paguyuban pedagang tahu-tempe di Surakarta tidak berencana ikut mogok produksi pada 9-11 September, nyatanya pasokan tempe ke pedagang pasar tradisional terhenti. Salah seorang penjual tempe di Pasar Legi, Rahmi, mengatakan hari ini tidak mendapat pasokan tempe dari tiga perajin tempe langganannya.

Padahal, dalam sehari dia biasanya mendapat pasokan sekitar 200 lonjor tempe berukuran panjang 30 sentimeter, lebar 5 sentimeter, dan tebal 2 sentimeter.

“Saya terpaksa bikin tempe sendiri. Biar pelanggan tidak kecewa,”

katanya kepada wartawan, Senin, 9 September 2013.

Hari ini Rahmi membuat 50 lonjor tempe. Namun, karena stok terbatas, dia menaikkan harga jual dari Rp 2 ribu per lonjor menjadi Rp 3 ribu.

“Tempe saya langsung diserbu pembeli karena tidak banyak yang jual tempe,”

ujarnya.

Rahmi mengaku akan memproduksi tempe sendiri hingga Rabu. Karena tiga pemasoknya sudah memberi tahu akan libur produksi selama tiga hari.

“Saya tidak takut kena sweeping. Yang penting pelanggan tidak kecewa,”

katanya.

Penjual tempe lainnya, Parni mengatakan pasokan tempe terhenti karena perajin tempe langganannya tidak produksi.

“Mereka tidak produksi. Katanya kalau tetap bikin akan diganggu perajin tempe lainnya,” ujar.

Biasanya dia yang mendapat pasokan dari 100 lonjor tempe dari perajin di Sukoharjo.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya, Parni terpaksa mencari tempe dari perajin lainnya. Itu pun pasokannya hanya 300 lonjor yang dijual Rp 1.500 per lonjor.

“Kalau yang biasa saya jual, harganya Rp 3 ribu per lonjor. Rasanya lebih enak,”

ucapnya.

Sedangkan untuk pasokan tahu, dia mengaku tidak ada masalah. Hari ini dia tetap mendapat kiriman 10 tong berisi 300 buah tahu per tong.

“Pasokannya tetap, tapi ukurannya dikurangi,” katanya.

Penjual tempe lainnya, Suginah mengaku hanya membuat 2 kilogram tempe bungkus daun.

“Biasanya 5 kilogram,” ujarnya.

Dia mengurangi jumlah produksi karena harga kedelai impor mahal dan ikut solidaritas perajin tempe lainnya yang menghentikan produksi.
“Kalau perajin tempe skala besar memang berhenti produksi. Yang kecil-kecil seperti saya masih produksi tapi jumlahnya sedikit,” katanya.

Sehari-harinya Suginah menjual per 10 buah tempe dengan harga Rp 3 ribu.

Produsen Tahu Yun Sen dan Tauhid Ikut Mogok.

Produsen tahu ternama di Bandung, tahu Talaga Yun Sen atau biasa disebut tahu Yunsen juga mogok produksi.

“Kita harus tutup, nggak boleh buka, ya kita ikut saja,”

kata Wati, pengelola produksi tahu itu saat dihubungi Tempo, Senin, 9 September 2013.

Pada 7 September lalu, produsen tahu yang beralamat di Jalan Sudirman Bandung itu menerima surat edaran dari Kopti (Koperasi Perajin Tahu-Tempe Indonesia) yang meminta perajin berhenti produksi selama 3 hari, mulai 9 hingga 11 September 2013. Meski Wati sendiri mengaku, tidak mengerti alasannya.

Gara-gara itulah, di hari terakhir tidak boleh produksi, pada Minggu, 8 September 2013, pengelola tahu Yun Sen memprioritaskan produksinya pada pedagang pengecer bermodal kecil itu.

“Biar mereka bisa hidup. Kasihan kalau yang kecil ini gak jualan, saya kasih (stok untuk jualan) dua hari,” kata Wati.

Hal yang sama dilakukan produsen tahu Tauhid di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

”Mulai dari hari ini stop jualan,”

kata Dini Oktaviani, keluarga pemilik produsen tahu itu pada Tempo.

Dini mengatakan, tahu Tauhid ikut berpartisipasi mogok berproduksi karena mereka juga ikut mengalami imbas kenaikan harga bahan baku kedelai.

“Kita juga ikut merasakan,” kata Dini.

Tahu Tauhid adalah merek dagang tahu yang terkenal di Lembang dan Bandung.

Menurut dia, kenaikan kedelai dalam sebulan terakhir ini memaksa Tahu Tauhid menaikkan harga juga. Selain itu, tahu tauhid juga terpaksa tidak memasok kebutuhan tahu untuk supermarket yang sudah diikat dalam kontrak.

“Ada beberapa pelanggan kecewa kenapa tidak bisa (memasok). Kalau tetap buka, nggak ikut berpartisipasi. Padahal kita juga merasakan imbasnya,” kata dia.

Photo Credit: Daniel Hurst Photography

Tags: , , , , , , ,


About the Author

duniatraining

pecinta pengembangan diri dan berkomitmen untuk memberikan motivasi dan inspriasi terbaik di website ini untuk para pecinta pengembangan diri lainnya. Delivering Happiness adalah value kami.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

Email address