Health 542107_394875947220267_296735643700965_1150985_1843076300_n

Published on May 24th, 2012 | by duniatraining

16

”Papa, kembalikan tangan Ita…..“

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman sebagai pelajaran.
Sebagai orang tua kita patut juga menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati.

Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.

Begini kisah nyatanya:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja.

Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.

Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena jalan macet. Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil.

Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit,

“Kerjaan siapa ini?”

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.

Dia juga beristighfar.

Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan

‘Tak tahu… !” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?”

hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.

Dengan penuh manja dia berkata

“Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!”

katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa?

Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah.

Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis.

Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.

Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak.

Pembantu rumah mengadu.

“Oleskan obat saja!”

jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.

Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah

. “Ita demam…”

jawap pembantunya ringkas.

”Kasih minum obat penurun panas ,”

jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas.

“Sore nanti kita bawa ke klinik”

kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.

“Tidak ada pilihan..”

katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.

“Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah”

kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.

Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.

Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

“Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.”

katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

“Ita juga sayang Kak Narti..”

katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.

“Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,”

katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

Tags: , , , , , ,


About the Author

duniatraining

pecinta pengembangan diri dan berkomitmen untuk memberikan motivasi dan inspriasi terbaik di website ini untuk para pecinta pengembangan diri lainnya. Delivering Happiness adalah value kami.



16 Responses to ”Papa, kembalikan tangan Ita…..“

  1. Apa yang dilakukan anak kita itu adalah sebagai anak yang penuh kreativitas, tidak perlu dilarang dan dihukum jika mereka punya salah, Tuhan saja maha pengampun. Anak itu titipan Tuhan yang harus kita jaga.

  2. Surahman says:

    Sungguh sebuah kisah yang sangat mengharukan!! Komentar saya: Janganlah menempatkan ‘kemewahan duniawi’ di dalam hati karena bila hati dikuasai dunia, maka sudahlah pasti hati akan dikuasai syetan. Ingatlah bahwa tidak seorang manusiapun yang lahir kedunia ini membawa harta benda dan tiada manusia akan membawa harta bendanya saat ia meninggalkan dunia ini! Dari kisah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua gadis cilik itu adalah penyembah harta benda sehingga mereka tidak rela apabila sesembahan mereka tercederai meski itu dilakukan oleh anak gadis mereka yg tiada berdosa! Nauzubillahiminzalik..Astagfirullahaladzim..

  3. jiyanto says:

    begitu membaca meneteskan air mata, luar biasa?

  4. David Tansil says:

    Pertama tama belajar kesabaran, karena dengan kesabaran kita dapat berpikir RASIONAL. Untuk menjatuhkan hukuman harus kita pertimbangkan :
    1. Siapakah yang berbuat, apakah dia tahu yang diperbuatnya itu salah.
    2. Pikirkan hukuman yang diberikan dan akibatnya.
    3. Tanamkan dalam hati HARTA DAPAT DICARI, KEBAHAGIAN KELUARGA TIDAK DAPAT DIBELI. Sehingga setiap kesalahan dapat kita Maafkan.
    4. Memberi NASEHAT untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga dari pada hukuman physik.
    5. Ingat tugas kita sebagai Orang Tua MENDIDIK ANAK, bukan MENGHUKUM.
    PENYESALAN TIDAK ADA GUNANYA, DALAM KASUS INI SEANDAINYA NANTI ANDA JADI KONGLOMERAT ANDA MASIH DAPAT MEMBELI SERATUS MOBIL MEWAH, TETAPI ANDA TIDAK DAPAT MEMBELI 1 TANGAN UNTUK ANAK ANDA.

  5. suciptono says:

    Mata saya cepat berlinang membaca kisah ceritera ini. Memang materialisme kadang bisa mengalahkan anak, persaudaraan, pertemanan, kekeluargaan. Mudah-mudahan semakin banyak orang memiliki materi berlimpah dapat menguasainya dengan benar agar selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan dan hidup penuh kasih sayang diantara sesamanya dan hidup penuh dengan kesabaran.

    • Marudur Uli Tampubolon says:

      ya Tuhan…. kiranya peristiwa ini menjadi yang pertama dan yang terakhir di seluruh belahan dunia ini….Kiranya ENGKAU TUHAN selalu mencurahkan Roh Kesabaran bagi semua orang tua serta Roh Kebijaksanaan sehingga setiap orang tua tidak salah dalam bertindak. Sabar ya Ita… TUHAN pasti curahkan Kasih Sayang yang lebih nyata bagimu…. Tiada Yang Mustahil BAGINYA.

  6. okalentina says:

    seberapa besarpun kesalahan anak shrusnya org tua bisa memaafkannya. Kalo org tuanya saja bersikap seperti itu apalagi org lain?? Terlebih anak kecil yg melakukannya

  7. Sesilia W. says:

    Menjadi orang tua bukan hal mudah, perlu pengetahuan yang memadai untuk memperlakukan dan mendidik anak. Selain pengetahuan, orang tua juga harus memiliki kecerdasan emosi yang baik dalam menghadapi anak. Kesabaran adalah salah satu hal yang menunjukkan cinta kasih orang tua kepada anaknya.

    Bagi yang sudah menjadi orang tua, ada baiknya untuk selalu memperkaya pengetahuan mengasuh anak.

    Bagi calon orang tua, belum terlambat untuk menambah ilmu yang dimiliki dengan ilmu pengasuhan anak.

  8. Djamal Katili says:

    Thk’s dunitraining.com

    Kisah diatas membuat Saya terinspirasi dan sedih, menangis karena Saya mempunyai Anak yg seUsia itu.

    Saya Memohon izin utk mengCopy cerita ini ke Blog sy…

    • duniatraining duniatraining says:

      Silahkan Pak.. Jikalau boleh untuk lebih banyak dapat menginspirasi orang lain, kami meminta tolong untuk dapat menambahkan link website duniatraining.com juga di blog Anda. Terima kasih

  9. Dian says:

    Astaghfirullahaladzim..
    Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua, baik yang sudah menjadi orang tua maupun yang belum..

    • ST.Maryam says:

      kisahnya membuat sy meneteskan air mata,ini pelajaran buat kita sebagai orang tua dalam mendidik anak……..

  10. abdul hadi says:

    periode tumbuh kembang anak sangat beraneka ragam tergambar dalam tindakannya. tindakan seorang seperti apapun tidak mungkin bisa atur sejak dari awal dia lahir ke dunia ini seperti menginstall sebuah program komputer yang baru saja selesai dirakit. namun kita harus bisa mengarahkan mereka kepada arah yang lebih baik. kita kadang memandang tikah mereka aneh dan kadang kadang merusak. tetapi kita tidak tahu bagaimana perkembangan psikologi dan biologis yang dahsyat dalam diri anak membuat dia punya rasa ingin tahu dan punya kreasi yang luar biasa juga. namun sebagai anak kecil mereka belum bisa mengarahkan secara semua perkembangannya secara rasional karena mereka memang maklukh yang belum balikh berakal…orang tua Ita seharusnya sangat bersyukur karena punya anak yang luar biasa,,,,namun orang tua Ita ini tipe orang tua yang tidak mau rugi demi sebuah himah besar…akhirnya mereka menjadi orang yang sangat merugi

  11. Bangun P. says:

    Kisah ini sangat membekas dalam hati saya. Setelah membacanya, sampai sekarang tidak pernah saya lupa walaupun sudah lebih sepuluh tahun lalu. Pernah ketika isteri marah besar sama anak, langsung saya sadarkan dia. Uang, harta atau kesenangan lain bisa kita beli tetapi kalau anak sudah cacat akan menjadi kenangan pahit dan menjadi penyesalan seumur hidup dan itu tak akan bisa lepas dari ingatan.

    Kisah ini sangat kuat pengaruhnya thp seseorang drpd hanya memberi nasehat ttg. kesabaran. Selamat membaca kisah-kisah menginspirasi dari Dunia Training.

  12. Terimakasih untuk ceritanya. Kisah di atas benar-benar bikin trenyuh dan sedih jika mengingat bagaimana kita sering mengatasnamakan materi di atas segalanya. Mohon ijin share di blog saya, dengan mencantumkan link dari dunia training. Trmskh

  13. emha says:

    Itulah akibat jika orangtua dua-duanya kerja di luar rumah. Mestinya si ibu bisa kerja di rumah saja membangun bisnis online. Mereka beralasan ingin memenuhi kebutuhan si anak. Kalo bapaknya aja yang kerja masih kurang karena ada cicilan mobil. Mereka pasti mengaku sayang anak. Tetapi lihatlah, ketika mobil itu dicoret-coret oleh si anak, terbuktilah bahwa ternyata orangtua lebih sayang mobilnya daripada si anak itu sendiri. Tapi ini memang contoh ekstrim (bapaknya galak banged). Kalo ngga ekstrim ya ngga dramatis dong.. he.he.. selamat utk dunia training, udah bikin saya pengen nangis. hiks..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

Email address